Harmonisasi Sains dan Sosial: Menakar Arah Teknologi dan Kualitas Manusia

Perkembangan teknologi yang kian pesat tidak bisa lagi dipandang sebagai entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari nilai-nilai kehidupan manusia. Hal ini menjadi sorotan utama Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Direktur Jenderal Ahmad Najib Burhani menekankan bahwa setiap sendi kehidupan manusia kini telah terpapar dampak langsung dari kemajuan teknologi.

Dalam diskusi Iftar Talk, Najib menggarisbawahi urgensi penyelarasan antara inovasi teknis dengan pemahaman sosial. Menurutnya, kebijakan teknologi harus memiliki arah yang jelas dan tidak boleh meninggalkan aspek sosiologis masyarakat. “Jadi penting teknologi harus diiringi dengan pemahaman kehidupan sosial masyarakat sehingga kebijakan dan arah teknologi akan jelas dikembangkan ke arah mana,” ujarnya.

Jejak Sejarah Kemandirian Teknologi Nasional

Indonesia sejatinya bukanlah pemain baru dalam kancah teknologi global. Najib mengingatkan kembali memori kolektif bangsa pada era Presiden Soekarno hingga masa-masa sesudahnya, di mana Indonesia telah menunjukkan taringnya. Ketika negara-negara tetangga belum memikirkan infrastruktur angkasa, Indonesia telah meluncurkan Satelit Palapa, sebuah lompatan besar dalam telekomunikasi.

Profesor riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut juga memaparkan rekam jejak institusi strategis nasional. Mulai dari upaya pengembangan teknologi nuklir yang digawangi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), riset teknologi terapan melalui BPPT, hingga pengembangan kedirgantaraan lewat LAPAN. Puncaknya adalah keberhasilan industri pesawat terbang yang dipimpin BJ Habibie melalui Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), yang kini bertransformasi menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Tantangan Privasi di Era Pemerataan Digital

Senada dengan semangat pembangunan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut menyoroti aspek ekosistem digital. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, yang hadir mewakili Wakil Menteri Nezar Patria, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperluas akses internet hingga ke pelosok negeri. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi masa depan harus dikembangkan dengan basis yang ramah terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Sonny memberikan catatan kritis mengenai fenomena masuknya internet ke desa-desa. Situasi ini, menurutnya, secara tidak langsung memberikan keuntungan masif bagi perusahaan teknologi berskala global (Big Tech). “Ketika teknologi masuk di desa-desa, yang pertama kali senang siapa? Jelas perusahaan-perusahaan besar teknologi karena mereka secara otomatis memperoleh banyak data dari platform yang diakses oleh masyarakat,” jelas Sonny, menyoroti kemudahan akuisisi database pengguna.

Perubahan karakter manusia seiring perkembangan teknologi ini juga diamini oleh Praktisi Teknologi, Syafiq Pontoh, yang turut hadir dalam diskusi tersebut. Ia memaparkan bagaimana perilaku sosial masyarakat bertransformasi drastis akibat interaksi intens dengan dunia digital.

Refleksi Global: Pentingnya Persepsi dalam Pendidikan

Membangun ekosistem teknologi yang kuat tentu membutuhkan fondasi sumber daya manusia (SDM) yang tangguh. Namun, tantangan dalam pengembangan SDM tidak hanya soal infrastruktur, melainkan juga soal moral dan persepsi publik terhadap sistem pendidikan itu sendiri. Sebagai bahan refleksi global, fenomena yang terjadi di New Mexico, Amerika Serikat, memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana stigma negatif dapat menghambat kemajuan.

Sebuah laporan terbaru mempertanyakan klaim yang sering beredar bahwa sistem pendidikan New Mexico selalu berada di peringkat terakhir. Stigma “peringkat terakhir” ini sering menjadi topik pembicaraan mulai dari gedung Capitol negara bagian hingga percakapan santai warga, namun dampaknya ternyata sangat merusak.

G. Andrés Romero, seorang anggota DPR negara bagian sekaligus guru di Atrisco Heritage Academy High School, mengungkapkan betapa buruknya dampak narasi tersebut bagi mentalitas generasi muda. Ketika isu peringkat buruk ini muncul di kalangan siswa, hal itu menjadi beban moral yang sangat besar dan menurunkan semangat belajar mereka. Reputasi negatif ini tidak hanya menyerang psikologis siswa, tetapi juga membawa konsekuensi ekonomi yang nyata.

Gene Strickland, inspektur Sekolah Kota Hobbs, menambahkan bahwa stigma buruk pendidikan menyulitkan daerah tersebut untuk menarik tenaga pengajar berkualitas maupun pemberi kerja potensial. Hal ini menunjukkan benang merah yang jelas: baik dalam konteks teknologi di Indonesia maupun pendidikan di New Mexico, kemajuan sangat bergantung pada bagaimana kita memanusiakan manusia—menjaga moral, melindungi nilai sosial, dan membangun kepercayaan diri masyarakat.

Diskusi mendalam mengenai intersek antara teknologi, agama, dan kemanusiaan dalam Iftar Talk ini dipandu oleh Ketua PBNU Savic Ali. Turut hadir memperkaya wawasan dalam forum tersebut adalah Direktur Institute for Humanitarian Islam, Yaqut Cholil, serta Direktur Alvara Research, Hasanuddin Ali.

Releated

Evolusi Pendidikan di Era AI: Visi Masa Depan dan Realitas di Ruang Kelas

Diskusi mengenai peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan semakin intensif. Sementara para pembuat kebijakan di Kentucky merancang peta jalan pendidikan kejuruan hingga tahun 2050, OpenAI mengambil langkah konkret dengan meluncurkan perangkat lunak khusus untuk tenaga pengajar di Amerika Serikat. Kedua peristiwa ini menandai pergeseran signifikan dalam cara sekolah mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja yang […]

Geografi di Era Baru: Dari Konsep Fundamental hingga Integrasi Kecerdasan Buatan

Geografi, sebagai ilmu yang mempelajari bumi dan segala isinya, kini berada di persimpangan jalan antara prinsip-prinsip fundamental dan revolusi teknologi. Memahami interaksi keruangan telah lama menjadi inti dari disiplin ini, namun cara para ahli geografi menganalisis interaksi tersebut sedang mengalami transformasi besar-besaran berkat kecerdasan buatan (AI). Fondasi: 10 Konsep Esensial Geografi Untuk memahami geografi secara […]